Futur, Lelah Fisik dan psikis, underpressure, dan tentunya STREESSS, membayangi hari-hariku dua bulan terakhir ini. Kabut hitam menyelimuti waktu pagiku, sementara mendung membayangi langkahku di siang hari dan gelapnya malam terasa sejak senja mulai menjemput. Tak pernah rasanya matahari menerangi hariku…. Aku putus asa… FUTUR… jalanku gelap.. bukan mataku yang buta… tapi aku tak yakin bila hati ini yang buta… ataukah karena “kotor” yang membuat gulita dunia ini…
Dan akan menjadi tabiatku selamanya bahwa aku tidak akan pernah mempercayakan permasalahan kecuali kepada orang yang lebih banyak pengalaman dariku. Maka teman-teman yang sudah mengenalku tahu kalau aku jarang sekali curhat masalah yang pribadi. Paling masalah ekstern atau lingkunganku. Bukan karena aku tidak percaya pada mereka.. tapi karena aku memang telah punya guru dalam menghadapi kehidupan ini.
Ada seorang Sahabatku pernah meminta agar aku menceritakan kisah “CINTA” yang pernah aku alami. Dia mengawali dengan menceritakan Cintanya. Aku bingung… cerita mana yang harus aku berikan. Terlalu banyak wanita yang aku cintai. Tapi cinta itu terlalu cepat menguap sebelum sempat aku utarakan. Sehingga akupun mengarang cerita CINTA itu. Aku berikan sebuah soal matematika kalo dia ingin tahu nama Gadisku. Aku tahu dia tidak suka matematik (karena jurusanya bahasa). Hingga misteri itu tidak terungkap. Dan nama itu masih misteri. Tokh kalo terungkap dia tidak tahu siapa Gadisku… bahkan mungkin akupun tak tahu… Tapi itulah aku…. Menjaga komitmen itu penting….
Tapi kegelapanku kali ini ternyata harus aku sibak sendiri… Guruku yang satu sedang sibuk karena mau pindah, sedang yang satu sibuk skripsi… ah….. akankah aku mampu melewatinya…setelah tugas kampus selesai Aku pulang ke tanah tumpah darahku… dengan harapan malah itu segera selesai…. Tapi Allah punya rencana lain… di tanah kelahiranku ternyata ada benang-benang kusut yang semakin menjerat pikiranku… ingin aku lari sejauh mungkin.. ingin aku bercerita pada istriku tapi dimana dia.. kenapa belum juga ada tanda kehadirannya… dengan tambahan arang hitam aku balik ke tanah perantauan… mengharap menemukan keajaiban sebelum ujian akhir tiba.
Bosan… kulalui hari-hari dengan HAMBAR.. keras… lunglai..gontai.. semua… hingga aku tersadar ketika seseorang melempar pertanyaan “Sahabat…. Masih semangat pagi ini?…..” melalui sebuah pesan singkat. masih semangatkah aku.. aku jawab pesan itu dengan jawaban MUNAFIK…..BOHONG “tentu Sahabat..” aku tak ingin mengecewakan Sahabatku itu, atau karena aku gengsi karena aku laki-laki. Karena aku sering menyemangati pula Sahabatku ini….
Hatiku gelisah karena telah melakukan kebohongan tehadap sahabat sendiri… dialog dalam hatiku terjadi dalam waktu yang panjang. hampir seharian aku memikirkannya. Dan….. sadarlah aku ada seseorang yang dekat denganku bahkan sebetulnya dialah yang akan menyelesaikan benang kusut itu, menghilangkan kabut dan mendung itu….dialah ALLAH.. Tuhan Semesta Alam… tersadarlah aku mengapa aku hambar ketika beribadah dan bermunajat kepada DIA.. yak arena aku tak menyadari suatu hal bahwa semua itu datang dari sebuah sumber yaitu KeMaha Kuasaan-Nya…
Sahabat….. Jazakillah khoir semoga Allah memberikan kepadamu kemuliaan…..maaf atas kebohongan itu…
“sesungguhnya Pedang yang tajam berasal dari besi yang ditempa dengan panas Api yang membara. Begitu pula manusia, mereka yang tepilih adalah mereka yang pernah diuji dengan ujian yang sangat berat.”
winner berkata,
21 Februari, 2009 @ 9:41 am
kayaknya nyindir nih……..